Beranda / Uncategorized / SKBN Rasa Maraton, Warga RSUDAM “Dilatih” Sabar Hingga 8 Jam

SKBN Rasa Maraton, Warga RSUDAM “Dilatih” Sabar Hingga 8 Jam

LAMPUNGSTREETNEWS, Bandar Lampung — Jika ada lomba sabar nasional, Putra Jaya barangkali layak naik podium. Demi selembar Surat Keterangan Bebas Narkoba (SKBN), pria 45 tahun asal Bandar Lampung ini harus menjalani “Uji Ketahanan” selama hampir 8 Jam di RSUD Abdul Moeloek (RSUDAM).

Datang dengan harapan layanan cepat, ia justru pulang membawa pengalaman berkesan. “Sangat lama pelayanannya. Saya buat surat keterangan bebas Narkoba yang bayarnya Rp300 ribu itu prosesnya mulai pukul 09.00, baru jadi pukul 16.15. Tegambui kami di sini”, kata Putra Jaya, Kamis (8/5/2025).

Menurut Putra, suasana di RSUDAM tidak ramai-ramai amat. Namun proses tetap berjalan lambat, bahkan menurutnya para petugas tampak lebih Akrab Dengan Layar Ponsel ketimbang dengan Berkas-berkas Pasien.

“Sebenarnya tidak sampai ramai-ramai amat lah. Tapi sangat lama sekali. Saya melihat petugasnya banyak main HP. Kalau dikerjakan cepat jadinya, minimal nggak sampai 8 jam lah. Saya minta agar ada perhatian dari Gubernur Mirza agar manajemen RSUD AM dibenahin”, lanjutnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Direktur RSUDAM dr. H. Lukman Pura, Sp.PD., K-GH., MHSM, bergerak ke Bagian Keperawatan.

“Saya cek ya ke Bagian Keperawatan”, ujarnya saat dikonfirmasi awak media, Kamis (8/5/2025). Tak lama kemudian, ia menyampaikan bahwa antrean panjang hari itu memang di luar kebiasaan.

“Semua sudah selesai di Lab Central. Hari ini ternyata terlalu banyak rupanya. Saya dapat laporan hari ini memang ramai yang periksa untuk 100% PNS. Dari karyawan dan perusahaan banyak yang periksa surat sejenis”, katanya.

Sebagai solusi, pihak rumah sakit menjanjikan antisipasi. “Kedepan akan diantisipasi, harusnya loket pemeriksaan dan tenaga ditambah. Akan kita perbaiki”, janjinya.

Sementara itu, pelayanan publik terus dicanangkan sebagai prioritas di bawah kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal. Namun, kasus-kasus pelayanan buruk yang selalu terulang tampaknya memberi catatan penting di beberapa tempat, reformasi masih harus melewati meja registrasi dan barisan ponsel petugas. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page