Bulutangkis Disponsori oleh Penyakit

POLEMIK antara KPAI dengan PB Djarum menjadi isu hangat menjelang Hari Olahraga Nasional (Haornas) yang jatuh pada 9 September 2019 hingga saat ini. Masyarakat Indonesia, khususnya para pecinta bulutangkis mendengar berita mengejutkan baru-baru ini.

Bagaimana tidak, setelah PB Djarum memutuskan menghentikan audisi untuk menjaring para pebulutangkis berbakat yang notabene bibit-bibit baru berasal dari anak-anak. Kini menjadi polemik di internal kita sendiri.

Besarnya pengaruh hajat bulutangkis di Indonesia dimata dunia tak lebih dari sumbangsih iklan rokok melalui Djarum. Sementara KPAI yang menyebut perusahaan rokok tersebut telah mengeksploitasi anak di bawah umur untuk citra dagang mereka.

Antara olahraga dengan iklan rokok di Indonesia memang tak bisa dipisahkan, sebab donatur terbesar dari pajak ini berani menggelontorkan biaya yang bukan main, ketimbang perusahaan besar lainnya yang masih berfikir untung ruginya menjadi sponsor tunggal.

Setidaknya, apakah KPAI lupa bahwa Djarum merupakan pihak swasta yang berperan besar dalam membesarkan olahraga bulutangkis Indonesia? Ada beberapa nama yang telah berhasil diterbitkan menjadi juara dunia oleh Djarum.

Seandainya benar-benar mundur, bagaimana nasib bulutangkis Indonesia? Menurut Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti, kepedulian Djarum sangat besar dalam membesarkan bulutangkis Indonesia.

Saat ini siapa yang membina dan punya kepedulian untuk bulutangkis? Di saat diharapkan naikin prestasi, tapi di sisi lain (audisi dihentikan) lantaran KPAI mengecam lagi-lagi eksploitasi anak yang dijadikan alasan.

Sejak zaman legenda Bulutangkis Rudi Hartono hingga era Susi Susanti pada dekade 90an, pencarian bibit-bibit muda, dimulai dari masa kanak-kanan di usia 5 tahun. Contoh hal bagi pebulutangkis wanita Liliyana Natsir yang memilih pensiun di usia muda usai mendapatkan emas di ajang olimpiade 2016 lalu.

Dirinya mengenal bulutangkis sejak usia kanak-kanak, dan lebih memilih menggantungakan seluruh hidupnya untuk bulutangkis. Serta masih banyak contoh mantan altet yang menggantungkan hidupnya untuk bulutangkis diawali sejak usia kanak-kanak.

Setidaknya, sejak dulu hingga saat ini, altet bulutangkis Indonesia dimata dunia tak bisa dianggap remeh saat berada dilapangan.

Bagaimana jadinya jika sponsor tunggal seperti Djarum yang dianggap penyakit, tak lagi membiayai ajang pencarian bakat bibit-bibit Bulutangkis yang umumnya sudah terbukti melahirkan atlet-atlet terbaik dunia hingga saat ini. Wallahu A’lam (Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *